Filosofi Pulpen

photo 4 (1)

    Apa kalian inget pertama kalinya kalian gunain pulpen untuk nulis? Mungkin saat kita masih sangat kecil, sekedar dipinjamkan oleh orang tua atau kakak kita untuk mencoret-coret iseng sembarangan di atas kertas. Pastinya itu gak bias diitung jadi pertama mengingat yang kalian tulis itu bukan tulisan melainkan coret-coretan gak ada arti. Gue inget pertama kali gue nulis pake pulpen adalah saat duduk di kelas 2 SD. Daaaan momen itu… samasekali gak kerekam di otak. Mungkin karena gue pikir itu gak terlalu penting. Mungkin kalian juga pikir itu gak terlalu penting.

    Beberapa minggu yang lalu, gue iseng lagi nyoret-nyoret sketchbook, iseng-iseng bikin typografi gitu. Cuplikan lirik lagu coldplay yang judulnya “Paradise”, lengkap dengan gambar gajahnya. Well, mungkin gak penting apa yang gue tulis. Tapiada yang menarik. Gambar itu awalnya gue bikin menggunakan pensil. Terus sisanya gue tebelin garis dan detailnya menggunakan spidol, pulpen, dan marker super gede. Ketika lagi asik-asik nebelin, gue kehilangan focus dan ngelakuin kesalahan cilik; garisnya gak rapi dan belok-belok meliuk keluar dari path yang udah gue bikin sebelumnya. Ya Tuhaaan, itu tuh serba salah banget. Jelas gue gak bakal mau pake tipe-x karena benda itu cuma bakal bikin jelek, karena bekasnya keliatan jelas. Akhirnya gue perbaiki sebisa gue, dengan bikin bentuk baru untuk nutupin ketidaksempurnaan itu.Nah, berhubung gue hobi banget mikirin sesuatu – kadang bener-bener suka mikirin sesuatu yang sepele sampe segitunya, you know seberapa gitunya itu , jadi dari proses menggambar itu timbul suatu pemikiran. Ternyata menggambar adalah representasi dari kehidupan. Kenapa gue bilang gitu?

      Awal kehidupan, kita tuh ibarat kertas kosong, gak berisi apa-apa, baik ilmu pengetahuan, pengalaman, norma, dan lain-lain. Seiring bertambahnya waktu, kita diisi dengan norma dan pengetahuan, yang digarisin pake pensil dan dituntun oleh orang tua kita. Norma dan pengetahuan berkembang dan dinamis sifatnya, selayaknya pensil, bias dihapus dan ditambahkan lagi. Ketika dirasa sudah cukup dewasa, orang tua kita melepas kita dengan tanggung jawab. Mereka membekali kita dengan pulpen, secara tidak langsung merupakan semiotika dari “Nak, lukis dan isilah hidupmu dengan keragaman dan keindahan sesuai keinginanmu. Tapi ingat, kamu sepenuhnya bertanggung jawab atas apa yang akan kamu ciptakan”. Menyenangkan bukan? Hehehe

     Saat itulah, saat tiba masanya kita bertanggung jawab atas diri kita, saatnya kita menggambar di kertas dengan menggunakan pulpen dan spidol. Kita pelan-pelan menelurusi pola yang sudah ada, menebalinya dengan pulpen. Kadang pulpen kita tidak sesuai dengan pola pensil yang ada, kadang dalam hidup kita berbuat salah dan melakukan hal yang tidak sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh para pendahulu kita. Kita isi warna-warni dengan krayon, pensil warna, spidol warna, dan lainnya. Kita mungkin melakukan beberapa kesalahan, tetapi kita tidak perlu takut. Bisa jadi masterpiece yang dibuat oleh seniman-seniman maestro di dunia yang dibuat adalah hasil dari 99% kesalahan. Kesalahan mustahil bisa dihindari. Kesalahan hampir mustahil untuk dihapus. Jika ada kesalahan yang harus kita lakukan adalah menyempurnakannya, dengan menimpalinya dengan garis-garis dan lekukan indah lainnya.

Jadi, dapat disimpulkan begini:

Menggambar=KehidupanMenggambar=SeniMenggambar=Kehidupan=Seni

Didapatkan kesimpulan bahwa Kehidupan merupakan seni yang indah, dan kita sendiri yang menjadi penentu apakah seni itu akan indah, atau jadi biasa-biasa saja. Benar gak?

Advertisements