Kenapa?

IMG00220-20101208-1612

Kenapa sih relationship gak dibikin less complicated aja? Intinya pacaran nyari kenyamanan kan?

Here is how I describe kenyamanan:

To hold when we’re weak, when we need a little talk or a long talk, an emotional transaction, to hold a secret, to make us feel accepted, to listen when you think nobody would understand, release your deepest anxiety and give you a nice warm hug, ask you for your day, support you, random text message to cherish your gloomy day, laugh with you, do stupid things with you? hang out with you?

Komitmen atau status cuma akan menimbulkan tuntutan, kegelisahan, ketidaknyamanan, memicu konflik. Akhirnya lupa sama tujuan utama buat saling bikin nyaman, malah saling ‘kontrol’. Makanya masa PDKT itu lebih indah dari pacarannya sendiri, bukan karena semata-mata kita masih saling nutupin sifat buruk. Tapi karena kita punya self-control. Saat pedekate kita jadi more happy less worry karena ngasih sayangnya tulus, penasarannya terus ada, usaha buat ngejaga hatinya juga ada.

SO, WHY? WHY you don’t believe the greatness of loving without expecting, without forcing to get loved back?

Well, tadinya cuma skeptis sama hubungan pacaran, sekarang skeptic sama semua laki-laki. Cuma setitik aja yang bikin ilfil, then I’ll say goodbye. They’ll end up the same, eventually.
I once have fully opened my heart. It was magical at first, but then he ripped my heart. The cut is too deep. I bled too much. Now my heart died. I lost my trust.

I still give chances to boys not because I’m searching a new one. It’s simply because I wait the moment when he finally show his ‘true color’, in which all the boys end up the same eventually.. And I was like “c’mooon show meee show me and prove me that I’m right!”

If falling in love is like being drunk, then now I’m sober. I’m not saying I’d stop drinking, but I prefer to avoid it. As far as I could.

Pushy

photo 4

I hate it when someone being so pushy. I hate it when someone overdo almost anything.

Exaggeration turns me off.

Why you insist that I could change my mind? No. You’re wrong. You’re wrong about me. You’re wrong about everything. I haven’t used my heart since my last ex. The cut was too deep, bled too much.

Now it’s already dead. Yeah, poor little thing.

Now, I keep that heart in somewhere safe. Nobody could touch it. Even me. So when I tell you that you have zero chance, then yes it is. You have absolutely none. I once lost myself because of someone. Now I have it back, I won’t let that happen again.

What irritates me? Your confidences like you know what’s in my mind. Your confidence to ‘control’ me beyond my consciousness.

What bothers me? Your stubbornness thinking that things would change, feelings would change, exactly like you want it to.

Several things change. Several things don’t.

It doesn’t mean you’re not good. Somehow something doesn’t feel right. I can’t trust you, and don’t want to either.

Selintas Karena Hujan Turun

photo 1 (1)

To write, to read, to draw or simply listen to the music; is the easiest escape from your reality. Being lost in mind is much more like a getaway,like travelling,like reforming the universe,like having a place where we belong to.
Lalu awan pekat itu menjelma segulung kenangan berisikan bulir-bulir pasukan penyayat hati..

Bagiku kini hujan tak romantis.

Hujan itu sadis

Retrospective: Another Stupid Dream

photo 2 (1)

Semalem mimpi super aneh.

Jadi ceritanya kehidupan ini seperti ada di dalam game RPG. Terus seneng banget dapet reward sepatu kaki buaya karena abis nyelesain 1 quest. Questnya apaan coba? Ngasih makan anak ayam. Eh pas udah dapet diketawain sama buaya beneran. Soalnya doi dapet sepatu burung. Sebenernya ga ngerti kenapa dia ngetawain sih.

Tapi jujur, sempet sakit hati diketawain. Soalnya questnya susah banget.

Sorry for being random.

Tentang Restorasi, Identitas, Sampai Humaniora

Tiga Dara (1976)

 

Siang ini gue ketika gue lagi iseng browsing, gue nemu link video yang sangat menarik, yaitu wawancara dengan bule yang restorasi film Tiga Dara (1956). Film jadul ini direstorasi jadi super kece, bahkan kualitasnya secara sinematografis jadi lebih keren dari aslinya. Bayangin, dari celluloid jadul yang udah rusak dan sangat sensitif mereka bisa bikin film lama jadi bisa dinikmati secara digital. Mereka rupanya udah biasa restorasi film, dan kemudian dijual lagi ke kolektor -seluruh dunia maupun orang indo sendiri- dengan harga selangit. Jadi kepikiran, seharusnya dari kita tuh muncul kesadaran bahwa film bukan hanya komoditi, tapi juga produk kebudayaan yang mengandung nilai historis, kultural, & identitas. Film bukan sekedar hiburan ataupun produk visual. Film juga merupakan sarana pembangunan, pendidikan, juga media interkonektivitas.Film itu bagian dari kapital kita. Memungkinkan banget, kalo secara habitus kita punya kesadaran untuk menghargai kebudayaan, kapital atau modal kita akan semakin kuat. Eventually.

Kebayang ga sih suatu negara bisa collapse kalo bangsanya gak peduli sama sejarah, mengingat sejarah juga bagian dari identitas? Contoh simpel: bangsa diibaratkan sebagai persona, yaitu kita. Suatu hari kita terbangun dgn lupa diri sendiri; siapa, darimana, bagaimana. Terus dateng seseorang bilang “kamu itu penjahat, kamu pembunuh berdarah dingin.” Dia berikan bukti-bukti pendukung sampe kita percaya. Sampe pada akhirnya kita bisa berakhir pada tiga kemungkinan:1. Menerima ‘kenyataan’ lalu memutuskan untuk tetap membunuh2. Menghukum diri sendiri, membenci dan selalu berusaha buat mati3. Bertobat. Padahal belum tentu kita pembunuh.Pengetahuan di dalam otak kita ibarat sebuah bangun abstrak, dimana fungsinya membantu kita dalam melihat, menelaah, menganalisis sesuatu. Ketika ga kenal sejarah, ada bagian-bagian yang ‘kosong’. Bagian kosong itu mudah dimasukkin apa aja, mau positif mau negatif. Karena sejatinya otak kita dirancang untuk menyerap informasi dalam waktu yang sangat singkat, serba cepat. Pemilahannya belakangan. ‘Kekosongan’ itu tadi membuat manusia sangat mudah dipengaruhi, bahkan dihancurkan. Misalnya dibuat jadi benci sesama, apatis, skeptis, dan lain-lain.

Gokil ya, dari film bisa dilebarin ke filsafat, sosiologi, komunikasi, biologi? Makanya gue (terlanjur) cinta sama bidang gue, ilmu gue, humaniora, karena sifatnya interdisipliner. Humaniora itu ‘Ibu’ dari segala ilmu pengetahuan. Sementara ilmu praktis cuma fokus sama satu ilmu aja, humaniora justru melihat kaitan dan jalinan antar ilmu-ilmu pengetahuan. Humaniora mempelajari ilmu tentang manusia. Bukan mempelajari anatominya, tetapi mempelajari ‘produk’ ciptaan manusia. Nah, kebudayaan dan ilmu pengetahuan itu produknya manusia, yaitu hasil dari pengalaman, akal budi, manifestasi dari cipta rasa dan karsa. Humaniora emang bukan ilmu yg bisa menciptakan materi yang konkrit. Kita membangun sesuatu yang ga terlihat, tetapi terasa, tetapi penting. Gunanya? Mewujudkan cita-cita luhur negara dalam pembukaan UUD alinea 4. Cliche sih, tapi kan itu udah komitmen bersama saat kita merdeka.In other words, lulusan perguruan tinggi tapi value-nya buat negara ga ada, perlu dipertanyakan apa bedanya sang sarjana sama lulusan sekolah dasar. Soooo jangan ngeremehin anak sastra ( humaniora) deh ya, kalo cita-cita lo abis lulus cuma kerjaan enak, gaji gede, berkeluarga, lalu mati wajar karena usia.

Mad

photo 3

I am mad.

We are mad. We have our own motifs of indignation. We have these outbursts of rage, like the Resistance. But we deny it. We’re on the same urge to resist. Yet we don’t know how, nor when, nor where. Being ignorant is the only choice, even it irritates us.I’m in the urge to resist, speaking up my indignation through my writings, to tell my disappointments towards my beloved country. Our country.

A place we called ‘home’. A home where you’re suffering and your rights as a human are being violated. And you accept that -without questioning- for the sake of your love and your integrity. Have to do something bigger than minding personal goals, which are nothing more than selfishness, based on the concept of an ideal life.

Although this concept is nothing more than an illusion, people are trying too hard to find the happiness. Indeed, a self-gratification.Sad. People are sad creatures living in a sad place called world. When self-gratification is the only purpose for your existence, you’re better stop claiming yourself as the khalifah on earth. Or please kindly run in front of a bus. (Lol jk) Self-gratification is as selfish as masturbation, yet another prove of narcissism.

And like Tolstoy said, “Happiness is an allegory, unhappiness is a story”