Tentang Restorasi, Identitas, Sampai Humaniora

Tiga Dara (1976)

 

Siang ini gue ketika gue lagi iseng browsing, gue nemu link video yang sangat menarik, yaitu wawancara dengan bule yang restorasi film Tiga Dara (1956). Film jadul ini direstorasi jadi super kece, bahkan kualitasnya secara sinematografis jadi lebih keren dari aslinya. Bayangin, dari celluloid jadul yang udah rusak dan sangat sensitif mereka bisa bikin film lama jadi bisa dinikmati secara digital. Mereka rupanya udah biasa restorasi film, dan kemudian dijual lagi ke kolektor -seluruh dunia maupun orang indo sendiri- dengan harga selangit. Jadi kepikiran, seharusnya dari kita tuh muncul kesadaran bahwa film bukan hanya komoditi, tapi juga produk kebudayaan yang mengandung nilai historis, kultural, & identitas. Film bukan sekedar hiburan ataupun produk visual. Film juga merupakan sarana pembangunan, pendidikan, juga media interkonektivitas.Film itu bagian dari kapital kita. Memungkinkan banget, kalo secara habitus kita punya kesadaran untuk menghargai kebudayaan, kapital atau modal kita akan semakin kuat. Eventually.

Kebayang ga sih suatu negara bisa collapse kalo bangsanya gak peduli sama sejarah, mengingat sejarah juga bagian dari identitas? Contoh simpel: bangsa diibaratkan sebagai persona, yaitu kita. Suatu hari kita terbangun dgn lupa diri sendiri; siapa, darimana, bagaimana. Terus dateng seseorang bilang “kamu itu penjahat, kamu pembunuh berdarah dingin.” Dia berikan bukti-bukti pendukung sampe kita percaya. Sampe pada akhirnya kita bisa berakhir pada tiga kemungkinan:1. Menerima ‘kenyataan’ lalu memutuskan untuk tetap membunuh2. Menghukum diri sendiri, membenci dan selalu berusaha buat mati3. Bertobat. Padahal belum tentu kita pembunuh.Pengetahuan di dalam otak kita ibarat sebuah bangun abstrak, dimana fungsinya membantu kita dalam melihat, menelaah, menganalisis sesuatu. Ketika ga kenal sejarah, ada bagian-bagian yang ‘kosong’. Bagian kosong itu mudah dimasukkin apa aja, mau positif mau negatif. Karena sejatinya otak kita dirancang untuk menyerap informasi dalam waktu yang sangat singkat, serba cepat. Pemilahannya belakangan. ‘Kekosongan’ itu tadi membuat manusia sangat mudah dipengaruhi, bahkan dihancurkan. Misalnya dibuat jadi benci sesama, apatis, skeptis, dan lain-lain.

Gokil ya, dari film bisa dilebarin ke filsafat, sosiologi, komunikasi, biologi? Makanya gue (terlanjur) cinta sama bidang gue, ilmu gue, humaniora, karena sifatnya interdisipliner. Humaniora itu ‘Ibu’ dari segala ilmu pengetahuan. Sementara ilmu praktis cuma fokus sama satu ilmu aja, humaniora justru melihat kaitan dan jalinan antar ilmu-ilmu pengetahuan. Humaniora mempelajari ilmu tentang manusia. Bukan mempelajari anatominya, tetapi mempelajari ‘produk’ ciptaan manusia. Nah, kebudayaan dan ilmu pengetahuan itu produknya manusia, yaitu hasil dari pengalaman, akal budi, manifestasi dari cipta rasa dan karsa. Humaniora emang bukan ilmu yg bisa menciptakan materi yang konkrit. Kita membangun sesuatu yang ga terlihat, tetapi terasa, tetapi penting. Gunanya? Mewujudkan cita-cita luhur negara dalam pembukaan UUD alinea 4. Cliche sih, tapi kan itu udah komitmen bersama saat kita merdeka.In other words, lulusan perguruan tinggi tapi value-nya buat negara ga ada, perlu dipertanyakan apa bedanya sang sarjana sama lulusan sekolah dasar. Soooo jangan ngeremehin anak sastra ( humaniora) deh ya, kalo cita-cita lo abis lulus cuma kerjaan enak, gaji gede, berkeluarga, lalu mati wajar karena usia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s