Gender, cinta, dan seksualitas

photo 2

Tergelitik banget buat nulis ini karena pagi ini, terpancing oleh sebuah conversation antar laki-laki di twitter, tentang pegawai-pegawai perempuan di salah satu Bank yang menurut mereka tidak semenarik di Bank yang lainnya. Gue jadi tersulut emosi ketika melihat hal yang sangat superficial kaya begitu. Gue seketika ngamuk dan bilang “hey.. ke bank ngurusin duit kan, bukan ngurusin birahi. Hargai profesionalitas perempuan dari kompetensi, bukan fisiknya.”

Jujur, miris sama laki-laki yang cuma bisa liat keindahan kasat mata. Pantes gak bisa liat kompetensi perempuan sebagai pribadi otonom terlepas dari atribut keperempuanannya. Laki-laki cetek yg pikirannya gak terbuka, alias goblok bisa berpura-pura pintar, terus meyakinkan kita kalo mereka better dari kita.
Pffft~ You know your own worth, girls! Buka mata. Mereka cuma makhluk-makhluk phallocentrist. Otak mereka ada di kelaminnya. Otak yang di kepala sih dipake kadang-kadang aja kalo kepepet. Hahaha (Ok ini sangat offensive).In my opinion, perempuan yang beneran perempuan, gunain otak terus jadi sadar sama kebutuhannya. Kalo laki-laki? Ya kesadaran, ya pikiran, yang ngatur burungnya.

Kalo perempuan yang menghamba laki-laki “aku butuh kamu..aku gabisa tanpa kamu..” itu bukan perempuan. Betina sih, tapi bukan perempuan. ‘Butuh’ itu bentuk manipulasi laki-laki. Kita dibuat “seolah” butuh mereka. Karena kalo kita ga punys rasa butuh, mereka gak bisa dapetin kita. Nih, dari cerita bahwa kita tulang rusuk laki-laki aja udah keliatan bahwa mereka butuh kita. Dan sebagai tulang rusuk, kita bisa hidup dan mandiri. Tanpa balik ke kerangka juga ga masalah.
Mulailah dekonstruksi dari hal-hal simpel. Karena laki-laki itu manipulatif, mereka akan berusaha gak jadi seperti yg dipikirin ‘korbannya’. Omong kosong macam “aku beda sama lelaki lain” and shit, misalnya. Karakter laki-laki yang sebenernya bisa kebaca dari obrolan, diskusi, juga dari cara mereka memandang suatu masalah. Scientifically proven. Tips-tips asmara, akun-akun yang provokasi galau, cinta, menye, quotes-quotes melancholic, itu semua manipulasi. Anyway, galau itu komoditas, oleh produsen dijadiin bahan mentah produknya karena gratis. Terus-menerus dikonsumsi & direproduksi. Lingkaran setan.
Bahkan rata-rata artikel seks & kesehatan perempuan di surat kabar redaksinya laki-laki, which is tend to mislead, giving wrong portrayal of women. Bukan hanya laki-laki yang nyebarin manipulasi itu, bahkan perempuan yang udah ketipu pun juga nularin virus ke sesamanya. Hiii

Dalam pornografi, film maupun literatur erotis, perempuan seringkali jadi objeknya, dan penulisannya gaya laki-laki. Bisa diciriin banget penulisan gaya laki-laki. Gimana caranya? Biasanya gaya penulisan dari sudut pandang laki-laki, cuma memberi penggambaran sensasi sepihak. Maksudnya sepihak, si penulis cuma bisa gambarin apa yg pernah dia alamin berdasarkan pengalamannya, dituangkan lewat tokoh utama (pria)nya. Terus sensasi perempuan digambarinnya gimana? Paling mentok cuma sebatas ekspresi; melenguh, memejam, menggigit bibir, meracau. Pffft banget gak sih?

Padahal yang dirasain perempuan gak bisa diliat dari ekspresinya doang loh. Ekspresi bisa menipu, remember? Bagi perempuan, pengalaman seksual (tentunya yang gak dipaksa ya) adalah sesuatu yang menyenangkan. Semacam perjalanan, semacam morphin, semacam kesadaran penuh akan tubuh dan syaraf-syaraf erotiknya. Penggambaran sensasi seksual perempuan yang paling tepat tuh cuma ada di literatur erotis yang ditulis sama perempuan. Bahkan sensasi itu digambarkan dengan perumpamaan yang pas, konsep yang universal, juga dengan penggambaran puitik yang sangat indah. Kenikmatan bukan cuma diliat dari melenguh. Emang kita kebo cyiiiin~ Kalo penulis perempuan menulis literatur erotis itu lebih pada niat “shares the same feeling”, bukan mau narsis. Lebih pada membagi apa yg dia rasakan. Sedangkan kecenderungan penulis laki-laki dalam erotika menunjukkan superioritasnya atas perempuan lewat penggambaran bagaimana mereka ‘garap’ perempuan sampe perempuannya ‘ga berdaya’. Tokoh utamanya sendiri manifestasi dari pengalaman si penulisnya tentang seks kan. Sorry but true, menurut gue penulis stensil laki-laki itu narsis.

Kemarin gue seharian menghabiskan waktu observasi berbagai mitologi klasik dan menemukan fakta yang unik tentang perempuan. Rata-rata perempuan dalam mitologi (goddess & demi-goddess) yang seksi (menggoda birahi) dan kuat, dianggap sebagai kutukan, bencana, malapetaka. Lain kali bakal gue post tulisan gue tentang universalitas pemikiran manusia, memposisikan perempuan sebagai yang ‘tertuduh’ dan bersalah. Nah, menanggapi respon mengenai konsep mother earth, gue udah pernah bahas di twitter. Intinya bumi itu konsep perempuan ‘ideal’, karena kan bumi itu pasif. Jadi, konsep berpikir seperti itu menimbulkan anggapan bahwa perempuan yang sejati itu yang pasif, nerima, dan lain-lain. Kalo yang agresif dan ekspesif, dianggep sebagai sebuah ancaman dan sangat destruktif.

“Perempuan tabu ngomongin seks, gak boleh, nanti dikira binal.” Ini adalah pola pikir tai yang ditanemin ke masyarakat. Birahi itu kodrati, bro. Dan membahas seks bukan berarti membahas aktivitasnya. Wake up. Don’t put your mind in a cage, it’s not a pet. Your mind deserve a wildlife, it has to be free.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s