Pemikiran: Feminisme dan Perempuan dalam Dunia Kerja

photo 5

Sebenarnya ini adalah tulisan yang saya buat untuk dimuat dalam sebuah artikel di majalah indie Zine: Slavemade, edisi Mayday. Artikel ini isinya cuma sekedar pemikiran dan pendapat pribadi terkait masalah feminisme dalam konteks keadaan perempuan dan kesempatan kerja. Tulisan ini kemungkinan akan saya perluas lagi, suatu hari nanti. Kalo ada salah-salah, mohon dimaafkan. Semoga bisa menjadi manfaat. Kalo enggak, silahkan diabaikan saja 🙂

        Dari hasil pengamatan saya selama ini dalam diskusi terbuka maupun online, tidak sedikit laki-laki yang gerah dengan istilah “Feminism” atau “Feminis”. Feminisme sendiri bagi sebagian kalangan sering dipersepsikan sebagai sebuah agenda dalam memperjuangkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Ada pula yang melihat feminism merupakan humanism karena beberapa prinsip serupa yang dimiliki keduanya. Kedua persepsi ini tidak sepenuhnya salah, namun akan menimbulkan stigma yang salah jika dilihat dari perspektif yang keliru.

Pemahaman: Feminisme dan Humanisme 

         Pertama-tama mari kita mematahkan stigma buruk feminisme dengan mendekonstruksikan pemahaman tentangnya. Feminisme bukan sebuah bentuk eksklusivitas wanita atas pria. Dalam dogma feminism, kita tidak berbicara mengenai pembedaan seks (jenis kelamin) melainkan gender. Seks adalah badani yang sifatnya kodrati. Namun gender adalah seperangkat karakteristik ciptaan manusia (produk kultural) untuk membedakan laki-laki dan perempuan dalam perannya secara sosial. Mengapa sering dikaitkan dengan seks? Perbedaan seks atau jenis kelamin ini adalah salah satu pemicu timbulnya diskriminasi gender. Feminisme adalah sebuah konsep, bukan pergerakkan atau aksi pemberontakkan. Feminisme masa kini fokus terhadap advokasi gender-gender yang didiskriminasi, yaitu perempuan dan juga LGBT.

         Kedua, mari kita rekonstruksi pemahaman dengan perspektif yang lebih gamblang. Konsep kesetaraan (egalitarian) dengan ideology feminis datang dari ‘ibu’ yang sama, yaitu Humanisme. Humanisme yang berkembang pada abad 18 sebenarnya sebuah ideology dimana manusia mengutamakan logika, etika, dan keadilan dengan mengabaikan dogma-dogma keagamaan dan keilahian. Praktik humanism yang dijunjung para egalitarian masa kini fokus pada komitmen terhadap hak-hak manusia dengan perspektif rasio yang universal dan sekuler. Namun, mereka tidak fokus terhadap gender. Feminism adalah konsep yang lebih meruncing dari ideology humanis, yaitu dengan fokus terhadap isu-isu ketidaksetaraan dalam gender. Pada intinya, humanis -atau egalis- dan feminis memegang beberapa prinsip yang sama. Jika keduanya sama, mengapa tidak pakai istilah humanism melainkan feminism untuk memperjuangkan kesetaraan? Karena tanpa menamakan isu ketidaksetaraan wanita, tanpa analisis dan aksi terhadap struktur kekuasaan yang sistemis; dimana sebagian besar sektornya dikuasai oleh laki-laki- dikhawatirkan permasalahan mengenai diskriminasi dan kejahatan terhadap perempuan tidak akan diprioritaskan. Bisa dikatakan bahwa feminism adalah humanisme, namun dengan kacamata yang lebih spesifik.

Agenda atau Konsep? 

         Penemuan pil kontrasepsi, gerakan feminism, penerimaan perempuan untuk mendapatkan edukasi yang lebih tinggi telah kita nikmati hasilnya hingga kini. Perlu dicatat bahwa gerakan feminism bukanlah sebuah konsentrasi pada hak-hak perempuan dengan mengabaikan hak-hak laki-laki. Gerakkan ini secara implisit mengutarakan ekspektasi kaum perempuan dalam penuntasan diskriminasi gender dengan tujuan berupa sebuah kebebasan agar seluruh manusia bisa mendapatkan hak dan kewajiban. Feminis dewasa ini bukan hanya membela gender perempuan saja, tetapi juga transgender maupun non-gender (LGBT).

         Untuk tujuan apakah? Sadly but true, bentukan sistem patriarkal yang terbentuk di masyarakat bukan menguntungkan kaum laki-laki secara general, tetapi demi kepentingan politis para pemegang kekuasaan. Patriarki yang tertanam pada sistem dan struktur kekuasaan membuat masyarakatnya lebih mementingkan kapital dan mentalitas dibanding penghormatan terhadap manusia, kebebasannya untuk mengekspresikan diri, juga menyadari potensinya secara penuh sebagai manusia. Dengan kata lain, ‘musuh bersama’ kita adalah para pemegang kekuasaan. Jika kita dapat memahami feminisme dengan baik, maka kita akan menyadari bahwa gerakkan yang dilakukan oleh para feminis ini bukan untuk keuntungan sebagian jenis manusia saja, namun untuk mewujudkan sebuah keuntungan yang konkrit bagi kita semua.

Konsep konvensional dan diskriminasi

          Banyak diskriminasi gender yang terjadi pada masyarakat urban. Saya ambil contoh yaitu keterbatasan kesempatan kerja terhadap perempuan dalam bidang professional. Saya bagi dalam pemicunya kedalam dua kelompok, yaitu internal dan eksternal. Pemicu internal biasanya terjadi pada perempuan yang menikah, yaitu akibat dari konsep konvensional yang ‘menuntut’ perempuan untuk menjadi yang bertanggungjawab penuh dalam tugas-tugas rumah tangga, sedangkan laki-laki yang bertanggungjawab dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi. Pembagian tugas ini semata-mata untuk efisiensi dalam pemenuhan kebutuhan materi demi sebuah kehidupan berkeluarga yang bahagia. Lantas, apakah dibenarkan jika komitmen membuat kita melupakan esensi kita sebagai manusia? Saya pribadi kurang setuju dengan pembagian tugas konvensional ini. Hidup bukan sekedar untuk bertahan dan memenuhi kepuasan materi. Bagaimana jika kita menghabiskan hidup kita untuk survive tanpa benar-benar tahu apa tujuan dari hidup ini?

           Menjadi ibu rumahtangga juga merupakan pekerjaan. Pertanyaannya, apakah pekerjaan ini secara konkrit menghasilkan sesuatu untuk banyak orang or just for the sake of surviving your own life? Meskipun si suami merupakan milyarder dengan harta tak terhingga, perlu diingat bahwa karir professional bukan semata persoalan income. Bunga Mega, founder dari PT. Perempuan Kuat Indonesia pernah mengatakan,”When you’re active, you’re just busy. But when you’re productive, you contribute.” Akibat dari konsep konvensional bentukkan ideology patriarki tersebut, banyak perempuan yang tidak menyadari pentingnya hal ini. Bahkan ketika mereka memiliki banyak skill dan potensi, setelah menikah mereka dengan segera menutup pintu-pintu kesempatan yang terbuka bagi mereka. Di sisi lain, para laki-laki juga ignorance terhadap hal ini. Bukan hanya dari sisi perempuan yang secara sadar membatasi dirinya, namun para perempuan yang terpaksa menikah muda, perempuan yang berstatus ekonomi rendah dan juga yang tidak memiliki kesempatan mengenyam pendidikan tinggi.

          Pemicu eksternal, juga datang dari stereotip-stereotip gender yang membuat kesempatan kerja di bidang professional bagi perempuan sangat terbatas. Contohnya, kuota dalam kursi perwakilan rakyat yang hanya 30% dan tidak bisa ditawar lagi. Meskipun sudah banyak perempuan yang menjadi pemimpin, namun banyak posisi pengambil keputusan didominasi oleh laki-laki. Selain diskriminasi, terdapat juga pelecehan terhadap perempuan dalam dunia kerja. Semua hal ini membatasi ruang gerak perempuan untuk bersinergi dengan  laki-laki dalam dunia professional. Salah  satu misi feminis dalam menciptakan suatu kondisi kehidupan yang egaliter dalam dunia professional adalah dengan melihat manusia (yaitu perempuan) dari kompetensinya, bukan lagi terkukung dalam kacamata stereotip-stereotip gendernya, juga membuka sekat yang membatasi perempuan akibat dari konsep konvensional dalam rumahtangga.

Referensi:

http://www.gender-focus.com/2012/08/07/feminism-f-a-q-s-why-feminism-not-equalism-or-humanism/http://www.shakesville.com/2006/04/feminism-is-humanism.htmlhttp://www.pambazuka.org/en/category/letters/44842

Slut and Bitch #1

phonto (20)

Lately, I discover that both ‘bitch’ and ‘slut’ have some negative values; to mock, to judge, to disrespect, and on. But bitch isn’t always a bitch, neither is slut. Shortly speaking, in the context of our present society, what are the differences between slut and bitch? How could one distinguish between both? Personally, when I don’t know how to define something, I’d make some binary oppositions, comparisons, criteria, and shits. These are some of my comparisons (a.k.a personal point of view, towards the differences) between slut and bitch to define each term.

Slut and Bitch

I might add the list later. But I think it’s enough for now.

I’m open to any addition, or comment. Or not.

Nah, I’m kidding.