Alasan Mengapa ‘Free-Spirited’ Self-Proclaim Identik Dengan Slutty

photo

Seiring dengan perkembangan jaman, socmed makin jadi bagian dari keseharian. Apapun yang terjadi di kehidupan sehari-hari bakal di-update di dunia maya, dan sebaliknya apapun yang terjadi di dunia maya seringkali jadi topik obrolan di kehidupan sehari-hari, even cuma buat icebreaking.

Fame, di dalam socmed semacam twitter, bagi sebagian orang tuh ternyata penting banget. Jelas, dengan kekuatan persuasi dan self-branding, asal lo mampu, lo bisa jadi apapun yang lo mau: penulis, pengusaha, politisi dadakan, spiritualis, pengamat sosial, bahkan selebriti. Semua bisa dengan satu hal: lo disukai dan so-called ‘diakui’ sama banyak orang atau followers. Manfaatnya? The power of massive communication, bien sur. Penciptaan ‘pasar’ tanpa harus bayar sewa lapak. Lo bisa membantu orang menjual barangnya di twitter.

Entah tujuannya buat profit atau emang di dunia nyata sosoknya semacam underdog yang ‘bukan siapa-siapa’, banyak orang-orang yang self-branding dirinya dalam klasifikasi tertentu, bahkan membuat citraan dirinya yang samasekali berbeda dari kesehariannya. Salah satu tipe yang unik baru-baru ini adalah tipe cewek dengan konten twit dewasa. Gue pribadi senang menjuluki mereka dengan self-proclaim ‘free-spirited’. Dalam konteks seksual, gue respek dengan cewek yang gak munafik. Gue sendiri udah menghapus boundaries gender gue dengan sempat menulis erotika, dimana cerita dewasa tersebut gue tulis dari sudut pandang perempuan. Tetapi sebagai perempuan gue pribadi gak suka dengan akun-akun itu. Kenapa? Lame. Mereka terlalu shallow. It seems to me that they’re nothing but a slutty pathetic attention-whore. Bagi gue, mereka merusak citra perempuan yang emang beneran free-spirited, dengan citraan yang mereka buat di twitter.

Berikut alasan gue:

1. Mereka terlalu sering mengobjekkan dirinya sendiri

Biasanya, mereka correlate sex dengan apapun. Seks dijadiin perumpamaan untuk hal apapun, termasuk untuk menyindir opposite gender. Pengobjekkan diri sendiri bisa dilihat dari pemilihan kata. Mereka gak risih ngomongin alat seksualnya sediri, tentunya dengan referring kedirinya sendiri. Contoh: toket, nenen, meki. Untuk kata kerja, terlalu sering  ditemukan penggunaan imbuhan pasif seperti di-. Contoh: dinenenin, dimasukkin, digrepe. Terus kegiatan seksual yang sering mereka jadiin perumpamaan itu cenderung men’s pleasure oriented. Contoh: Ngulumin. Dan tentu aja, penggunaan kata ‘kamu’ lebih banyak dari kata ‘aku’. Atau biasanya kata ‘kamu’ mendahului kata ‘aku’. Twitter kan semacam stream of thoughts. Meskipun dia mengaku sedang tidak jadi dirinya sendiri (alter-ego), tapi pemilihan kata itu biasanya subconciously.

2. Men’s pleasure oriented

Seperti yang tadi udah gue bilang, kecenderungan konten seksual yang sering terlihat dari postingan mereka rata-rata berhubungan sama kegiatan yang tujuannya buat stimulasi kenikmatan laki-laki. Entah memang targeted audience mereka laki-laki, atau mereka gak ngerti apa yang bisa membuat diri mereka sendiri merasa nikmat, atau mereka memang awam seks yang sebenernya gak ngerti apa-apa. I’m afraid these girls know nothing about orgasm and the real meaning of sex. Apa ada hubungannya? Jelas ada. Dari kecenderungannya membahas kegiatan menstimulasi laki-laki, perempuan-perempuan ini terlihat ‘know nothing about their pleasure’; they only know how to please their partners. Sedangkan well-experienced women in sex, terutama yang sudah akrab dengan orgasme, pasti akan subconciously memposisikan dirinya sebagai subjek dan pasangannya sebagai objek. Proporsi membahas kegiatan yang bikin mereka stimulated dan menstimulate pasangan pastinya gak bakalan timpang. Yang jelas mereka gak akan banyak menyebutkan area-area erotiknya sendiri, dan mereka gak go around and give “eh gue udah pernah ngelakuin ini loh, dan gue bangga”  kind of attitude. Perempuan jenis ini sudah secara penuh sadar what pleases her dan menganggap seks itu sejatinya buat diri lo sendiri, bukan kebahagiaan yang bisa dibagi ke semua orang.

3. They use ‘sex’ to go against opposite gender

Mereka memposisikan dirinya sebagai ‘korban secara seksual’ yang merugi, untuk menyerang laki-laki yang pernah ada di kehidupan mereka once the relationship’s over. Mereka mempersalahkan laki-laki atas nafsunya dan menganggap laki-laki cuma ‘memanfaatkan kesempatan’. Bitch please. Ketika interaksi seksual terjadi, udah jelas dari dua pihak pasti pada saat itu horny. Kalo memang lo merasa jadi korban, kenapa waktu itu tetep ngelakuin? C’mon, you know you enjoyed it. You loved it. And now you said that they just ‘used’ you? Seriously, women, you should really stop to see themselves as the victim sexually once the relationship has ended. Entahlah atau memang mereka terlalu munafik mengakui birahi sendiri. By the way, in relationship, you are the victim if you’re not allowed to get an orgasm during the sexual activity. So if you’ve been fully satisfied in your past relationship, please, save your stupid bullshit for another cause.

4. Using sex as the weapon of attraction

Here I tell ya: you’re less attractive when you’re trying so hard to be liked by being obscene. Orang-orang mungkin keliatannya suka sama lo, tapi sebenernya mereka cuma nganggep lo nothing but bispak (ups). I mean, you don’t have to go around and intently trying to arouse people with your words. What’s the point? Nothing.

5. Showing “I’m sexually active, emotionally absence. Because I have fuckbuddy” kind of attitude

Oh dear, such a lame self-proclamation. It’s like you’re like stating that sex is only good when you do it with partner. Too lazy to touch your cl*t or simply never had a good orgasm when going solo? Pffft. Here’s a little secret: sex is fun even when you do it only with yourself.

Kesimpulannya, perempuan-perempuan yang ngelakuin 5 kesalahan di atas ini udah membuat citra cewek yang beneran emang free-spirited, jadi sesuatu yang buruk. Kesalahan-kesalahan ini yang bikin perempuan gak bisa bebas berekspresi, sexually, tanpa dicap ‘gampangan’. Saran gue: cepetan sadar ya.

Dari gue, untuk seluruh perempuan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s