Semangat Kecil Untuk Kevin

phonto (15)

Tepat kemarin, hari minggu yang lalu saat baru saja pulang dari tempat arisan, tanteku bercerita mengenai Kevin.
Kevin adalah anak dari salah satu tetangga di kompleks ini. Usianya baru saja menginjak 13 tahun, mengingat Kevin baru saja masuk SMP. Siang itu, para ibu-ibu arisan dikejutkan dengan kenyataan bahwa mulai sekarang Kevin harus bergantung pada kursi roda. Ceritanya, 3 bulan yang lalu Kevin jatuh dari sepedanya dan tidak sengaja melukai kulit di daerah tulang kering kaki sebelah kirinya (atau kanan, aku juga tidak terlalu ingat ceritanya). Saat itu, Ibunda dari Kevin hanya mengobatinya di rumah tanpa penanganan lebih lanjut ke rumah sakit. Alih-alih sembuh, luka Kevin malah semakin parah hingga kakinya berubah warna menjadi putih. Kevin mengalami infeksi berat.

Kaki Kevin harus diamputasi

Dokter bilang, ini adalah satu-satunya cara untuk mencegah persebaran infeksi ke seluruh tubuhnya.

“Ma, tidak apa-apa ma. Mumpung kita masih di sini (rumah sakit) dan Kevin belum berubah pikiran. Kevin belum mau mati, ma.”

    Pernyataan kevin yang diceritakan ulang oleh tanteku ini mengiris hatiku dan membuat bulu kudukku berdiri. Kini Kevin harus kehilangan satu kakinya akibat keteledoran sang ibu. Kini sang ibu tidak henti-hentinya menangis. Namun semua yang terjadi di dunia adalah takdir yang tak bisa terhindarkan. Belakangan aku baru mengetahui bahwa Kevin bisa masuk tanpa tes ke sekolahnya yang sekarang karena bakatnya dalam olahraga renang. Dan sekarang, Kevin mungkin akan sangat merindukan kacamata renangnya, celana renangnya, juga bau kaporit air kolam.

     Kevin,
tidak ada yang bisa menghalangi mimpi dan kemauan keras, bahkan disability sekalipun. Seketika aku teringat seorang mahasiswi perempuan di fakultasku Aku pernah sekelas dengannya saat mengambil mata kuliah minor bahasa itali. Ia tidak bisa melihat. Kemungkinan glaukoma, aku kurang paham. Aku tidak pernah sempat mengobrol dengannya, juga karena ia selalu terlihat didampingi dengan dua orang temannya. Buku catatannya berupa mini tape recording. Ujian yang ia tempuh juga berupa ujian lisan. Kegigihannya diam-diam kukagumi karena membuatku sadar bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan niat dan kemauan keras kita dalam hidup.

“Every obstacle is an opportunity”

   Aku lupa pernah mendengar dimana, tetapi kata-kata ini sangat berpengaruh untukku pribadi. Kehidupan memang keras, namun manusia terlahir untuk menjadi kuat. Mereka yang mudah menyerah adalah mereka yang tidak seharusnya lahir.
Manusia seringkali kalah oleh dirinya sendiri. Karena manusia membatasi dirinya sendiri. Maka, mulailah bercinta dengan diri sendiri. Bercinta dalam artian menyayangi untuk disayangi. Karena ketika tumbuh rasa menyayangi dan disayangi oleh diri sendiri, maka rasa percaya juga akan mengakar di dalam hatimu. Berilah kesempatan itu untuk dirimu, jangan batasi dirimu untuk hal-hal yang belum kamu tahu. Karena dunia ini diciptakan seluas-luasnya dan serumit-rumitnya agar kamu berusaha untuk memahaminya.
Tetap semangat Kevin. Dunia mengalami siang dan mengalami malam. Begitu juga kehidupan; terkadang terang, terkadang gelap. Dan saat dinginnya malam sangat menusuk, percayalah bahwa pagi akan selalu siap menyambutmu, memberikan hangat dan mengobati luka hatimu.

      Bumi yang kita pijak selalu berputar pada porosnya, Kevin.
Biarpun malam dan pagi terus datang silih berganti, namun tidak akan ada pagi yang sama. Mungkin pagi esok akan lebih cerah dari hari sebelumnya 🙂