Kebebasan Berpendapat dan Cyberbullying

phonto (2)

Hakikat kebebasan manusia dalam eksistensinya.

    Kalo kita ngomongin soal kebebasan secara general, kita mesti kembali lagi pada hakikat kita sebagai manusia. Being and becoming. Menurut pemikiran eksistensialisme Sartre, manusia sejatinya menemukan dirinya sendiri (eksistensi), lalu menjadikan dirinya sendiri sebagai sesuatu (esensi). Dalam pencarian esensi inilah manusia memiliki kebebasan absolut dan free will. Masing-masing individu bebas menjadi apapun yang diinginkannya. Kebebasan ini disebut juga dengan subyektivitas. Nah, subyektivitas ini bukan hanya menghasilkan tanggung jawab bagi masing-masing individunya, tetapi juga bagi seluruh manusia. Dengan kata lain, kita sebagai manusia masuk ke dalam sebuah tanggung jawab yang besar dan kompleks karena hidup kita tidak terlepas dari manusia di sekitar kita.
Dalam eksistensialisme ateistik, Sartre juga menjelaskan eksistensi manusia tanpa adanya Tuhan. Manusia dianggap sebagai sebuah entitas kebebasan. Oleh sebab itu Sartre mengatakan bahwa manusia dikutuk untuk menjadi bebas. Mengapa dikutuk? Karena manusia tidak menciptakan dirinya sendiri atau diciptakan pihak lain, tetapi manusia begitu bebas sehingga ia harus bertanggung-jawab untuk seluruh aksinya. Seumur hidupnya, tanpa sadar atau disadari manusia menghabiskan waktu untuk mendapatkan kebebasan. Masuk dalam usia kritis berpikir, manusia mulai menyadari adanya kebebasan berpendapat dan kebebasan bertindak sebagai sebuah hak yang harus diterima. Mulai dari Duham dan undang-undang HAM lainnya dirancang sedemikian rupa demi menyelamatkan manusia dari represi. Sayangnya, jarang ada yang benar-benar menghayati HAM itu sendiri. Coba renungkan sejenak, sudahkah masing-masing dari kita menghayati arti kebebasan dan siap bertanggungjawab atas kebebasan tersebut?

Cyberbullying

     Kebebasan berpendapat adalah kebebasan yang paling sering disalahgunakan. Contohnya dalam kehidupan sosial kita dalam dunia maya. Pernah denger soal virtual bullying atau cyberbullying? Ruang virtual makin hari makin akrab sama kehidupan manusia, bahkan mungkin sudah jadi kebutuhan primer (untuk remaja, dewasa muda, hingga orang tua) yang susah untuk dilepas. Maraknya jejaring sosial yang berkembang sekarang membuat masing-masing dari kita juga memiliki social circle sendiri dalam ruang virtual kita. Dan sama seperti dunia nyata, di dunia ini bullying juga seringkali terjadi. Umumnya yang menjadi korban adalah remaja usia sekolah menengah pertama hingga akhir. Menurut CBC News, sejak tahun 2003 korban cyberbullying di US, Kanada, dan Australia mencapai angka 41 kasus bunuh diri. Salah satunya pada tahun 2011, Nova Scotia, korban cyberbullying melalui formspring, juga Amanda Todd yang membuat sebuah pesan terakhir pada jejaring sosial youtube, sebelum akhirnya bunuh diri pada akhir tahun lalu.
Dari keseluruhan korban bullying yang melakukan bunuh diri, 78% diantaranya mengalami bully di sekolah dan online. Sisanya mengalami mood disorder, gejala depresi, dan lain-lain. Mereka berumur dari 13 tahun hingga 18 tahun dan pelakunya merupakan orang-orang dengan usia dewasa muda. Menurut John C. LeBlanc, seorang professor dari Dalhousie di Halifax yang terlibat dalam penelitian mengenai cyberbullying ini, “Teenagers are very vulnerable that way. Adults use social media, particularly young adults. So, it’s not exposure to social media, but about being a young adolescent that is trying to form his or her identity, and cares very much about what people think.”

     Fenomena cyberbullying ini bukan hanya menimpa remaja maupun dewasa muda biasa, namun juga mereka yang terkenal seperti atlit tenis berumur 22 tahun bernama Rebecca Marino, asal Kanada. Rebecca memutuskan untuk mengundurkan diri dari Australian Open tennis championship akibat serangan para bullies melalui social media online. Para ‘haters’ ini menyerang Rebecca melalui twitter dengan kata-kata yang sangat inappropriate sehingga membuat Rebecca depresi dan menutup akun-akun jejaring sosialnya. Di Indonesia sendiri juga beberapa remaja seringkali mendapatkan serangan-serangan dari para bullies, atau kasus yang lebih sering terlihat adalah penyerangan oleh para (so-called) die hard fans dari seorang selebritis. Contohnya, Aurel Hermansyah. Sekitar satu tahun atau dua tahun yang lalu, gue sempet mengikuti linimasa Aurel. Beberapa akun dengan jumlah followers yang cukup banyak sering meretweet beberapa tweet aurel yang dinilai “galau”. Yang mengerikan justru komentar dari para followers akun-akun tersebut. Atau ada yang pernah perhatikan ketika ada seleb yang sedang tweetwar? Setiap ada yang tweetwar, yang gue lakuin adalah membaca mention yang masuk ke akun-akun masing-masing partisipan. Ada fans, ada haters, ada juga yang gak tau apa-apa dan asal komentar aja tetapi komentarnya benar-benar kurang ajar. Ironis karena partisipan dunia maya dewasa ini sudah tentu dari kalangan well-educated 😦

     Dalam lingkup virtual yang kita hadapi ini, tanpa adanya tatap muka, respon dan komentar akan segala sesuatunya cenderung bersifat spontan. Tidak adanya batasan ruang dan waktu juga membuat para partisipan virtual ini menuliskan sesuatu tanpa dipikir resikonya terlebih dahulu. Padahal, kebebasan kita dalam berpendapat juga harus mempertimbangkan kenyamanan, serta resikonya terhadap privilege orang lain. Apakah arti kebebasan jika hak kita untuk bebas itu ternyata membatasi ruang gerak orang lainnya untuk bisa bebas berekspresi? Apa sih yang kita harapkan dari lingkungan di sekitar kita? Nyaman, harmonis, dan damai kan? Lingkungan virtual kita juga seharusnya memiliki atmosfir yang sama seperti lingkungan tempat tinggal kita. Memang gak mudah jadi manusia, ada yang suka dan pasti ada yang tidak suka, karena semua hal di dunia memiliki dualitas. Pendapat subyektif masing-masing juga merupakan hak yang gak bisa kita ganggu gugat. Tetapi kalau memang gak suka, gak perlu dibenci atau dihina. Kalau memang berbeda, kenapa harus dibeda-bedakan? Selama yang dia lakukan tidak mengganggu dan melanggar hukum, buat apa mengoreksi tindakan mereka? Karena kebalikkan dari suka bukannya benci, tetapi tidak peduli. Sama aja seperti dunia nyata, kita juga harus menciptakan lingkungan virtual yang sehat buat semuanya. Buat para partisipan dunia v yang well-educated, yuk sama-sama behave. Kenyamanan kan dari kita untuk kita 🙂

Referensi:
http://www.cbc.ca/news/technology/story/2012/10/19/cyberbullying-suicide-study.html
http://www.cbc.ca/news/canada/british-columbia/story/2012/10/11/bc-maple-ridge-suicide.html
http://www.cbc.ca/news/canada/nova-scotia/story/2011/03/28/ns-jenna-cyberbullying.html
http://www.thestar.com/sports/tennis/2013/02/20/rebecca_marino_quits_tennis_following_cyberbullying_incidents.html

Maturity

phonto

        So couple nights ago I decided not to stay in my boarding house, instead I took a train back to my grandmother’s house. Because my grandparents are still in Malaysia for some medical check-up. I met up with my brother (who works in central of Jakarta) in the station, so that we could get back home together. I didn’t get the same train with him because my class ended up so late, not like it used to be. In the way home, we both went to one of fast food outlet which is famous for the fried chicken. Basically, I was not in the wrong mood. Just some and other things keep bother me but I don’t really buy it. Apparently, I rarely buy an a la carte in this kind of outlet, so I don’t know that if we only could buy two pieces of chicken by minimum. What irritated me the most is, we could only get 1 breast and 1 thigh for each purchase. I just don’t get it. Even when I bought 3 pieces of chicken and still, we will have to take that stupid thigh. I asked the employee about how could that possibly happen, since not everyone like the thigh piece.

He said  “That’s the way it is, ma’am, for purchasing the a la carte”. I was not angry because of him or this ridiculous rule, I was mad because he didn’t give reason, neither helped us. I asked him “Why we should take the thigh? What if I don’t like it? You will still force me to take it, even I was the one who bought it by choice? I’m your customer, I need to know why.” Then, my brother did the talking, and I kept asking questions to that employee. My brother looked a little bit irritated with my attitude, but he covered it with laugh. After a little bit negotiation, my brother could get all three pieces, breasts, but we have to switch it with the package with rice and coke. When the employee went to the back, my brother said “You don’t have to do that, he’s really not worth your attitude”. I was a bit surprised because he wasn’t standing on my side. “Why? It’s his job to give us explanation. It’s his job. He get paid for serving the best service.” “If you have some complains, just talk directly to the manager. You know, that kind of guy is the one who get scolded in his days of works, even it’s not his fault. And you know how much money he get from this job?”

“It’s our goddamn right as the customer. If anyone ever should take the role as the annoying customer, maybe that person is me. I don’t mind at all, someone should be on that role, right?”. He nodded and said “But you don’t push him nearly the edge. It’s not his fault at all, you’re an educated young lady, you know how to deal it without hurting people’s feeling”.
“Today, I got scolded in the office, for something that wasn’t my fault at all. I was upset. I wish I could backfire at my boss. But my professionalism has been questioned. I had to face it. You might not understand this but soon, you’ll know it.” Then he gently stroke my shoulder to calmed me down.

I just realized I was that temperamental. I couldn’t imagine if I was in that employee’s position, taking something that isn’t because of my fault at all. I can’t imagine one day I would be in his position. Maybe I would. And I would be so upset. I was trying to be mature and I was wrong. Mature isn’t only about how you think, it’s about how you maintain your emotions. And for heaven’s sake it’s just so hard to do.

But from that night, I realized that my brother has been so grew up. I’m talking about time that flies.

Semangat Kecil Untuk Kevin

phonto (15)

Tepat kemarin, hari minggu yang lalu saat baru saja pulang dari tempat arisan, tanteku bercerita mengenai Kevin.
Kevin adalah anak dari salah satu tetangga di kompleks ini. Usianya baru saja menginjak 13 tahun, mengingat Kevin baru saja masuk SMP. Siang itu, para ibu-ibu arisan dikejutkan dengan kenyataan bahwa mulai sekarang Kevin harus bergantung pada kursi roda. Ceritanya, 3 bulan yang lalu Kevin jatuh dari sepedanya dan tidak sengaja melukai kulit di daerah tulang kering kaki sebelah kirinya (atau kanan, aku juga tidak terlalu ingat ceritanya). Saat itu, Ibunda dari Kevin hanya mengobatinya di rumah tanpa penanganan lebih lanjut ke rumah sakit. Alih-alih sembuh, luka Kevin malah semakin parah hingga kakinya berubah warna menjadi putih. Kevin mengalami infeksi berat.

Kaki Kevin harus diamputasi

Dokter bilang, ini adalah satu-satunya cara untuk mencegah persebaran infeksi ke seluruh tubuhnya.

“Ma, tidak apa-apa ma. Mumpung kita masih di sini (rumah sakit) dan Kevin belum berubah pikiran. Kevin belum mau mati, ma.”

    Pernyataan kevin yang diceritakan ulang oleh tanteku ini mengiris hatiku dan membuat bulu kudukku berdiri. Kini Kevin harus kehilangan satu kakinya akibat keteledoran sang ibu. Kini sang ibu tidak henti-hentinya menangis. Namun semua yang terjadi di dunia adalah takdir yang tak bisa terhindarkan. Belakangan aku baru mengetahui bahwa Kevin bisa masuk tanpa tes ke sekolahnya yang sekarang karena bakatnya dalam olahraga renang. Dan sekarang, Kevin mungkin akan sangat merindukan kacamata renangnya, celana renangnya, juga bau kaporit air kolam.

     Kevin,
tidak ada yang bisa menghalangi mimpi dan kemauan keras, bahkan disability sekalipun. Seketika aku teringat seorang mahasiswi perempuan di fakultasku Aku pernah sekelas dengannya saat mengambil mata kuliah minor bahasa itali. Ia tidak bisa melihat. Kemungkinan glaukoma, aku kurang paham. Aku tidak pernah sempat mengobrol dengannya, juga karena ia selalu terlihat didampingi dengan dua orang temannya. Buku catatannya berupa mini tape recording. Ujian yang ia tempuh juga berupa ujian lisan. Kegigihannya diam-diam kukagumi karena membuatku sadar bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan niat dan kemauan keras kita dalam hidup.

“Every obstacle is an opportunity”

   Aku lupa pernah mendengar dimana, tetapi kata-kata ini sangat berpengaruh untukku pribadi. Kehidupan memang keras, namun manusia terlahir untuk menjadi kuat. Mereka yang mudah menyerah adalah mereka yang tidak seharusnya lahir.
Manusia seringkali kalah oleh dirinya sendiri. Karena manusia membatasi dirinya sendiri. Maka, mulailah bercinta dengan diri sendiri. Bercinta dalam artian menyayangi untuk disayangi. Karena ketika tumbuh rasa menyayangi dan disayangi oleh diri sendiri, maka rasa percaya juga akan mengakar di dalam hatimu. Berilah kesempatan itu untuk dirimu, jangan batasi dirimu untuk hal-hal yang belum kamu tahu. Karena dunia ini diciptakan seluas-luasnya dan serumit-rumitnya agar kamu berusaha untuk memahaminya.
Tetap semangat Kevin. Dunia mengalami siang dan mengalami malam. Begitu juga kehidupan; terkadang terang, terkadang gelap. Dan saat dinginnya malam sangat menusuk, percayalah bahwa pagi akan selalu siap menyambutmu, memberikan hangat dan mengobati luka hatimu.

      Bumi yang kita pijak selalu berputar pada porosnya, Kevin.
Biarpun malam dan pagi terus datang silih berganti, namun tidak akan ada pagi yang sama. Mungkin pagi esok akan lebih cerah dari hari sebelumnya 🙂