I Might Give Up On Skirt, Thanks to You Pervies

So yeah, it sucks to be a woman (note that I’m saying this in a very sarcastic tone). I guess I’m damned with this ‘hysteria’ that lies under my skin. It’s very hard to be one because society however ‘controls’ the way you talk, behave, dress, act, etc. If you don’t match the minimum requirements (I’m not saying ‘religious’, let’s not start with that), then you’re nothing but a *insert any name here*, *and here*, *and here*.

Why can’t we have the same privilege as men, to do whatever the shit we want to do? Why can’t women feel safe going out by herself night and day? Why can’t we dress up whatever the hell we want? Why can’t we feel comfortable by the way we are without your eyes leeching off like parasites?

So to speak, I love skirt; long, medium, short. Boys must be missing out, they don’t how skirts could liberate you that no pants would ever be able to (exception for transvestites). Anyway, yesterday I wore my favorite skirt. Skort, to be exact. It’s a short that perfectly disguises as a skirt. I waited for my boyfriend to pick me up to work on this side of the road and it kills me inside every time I saw people took a double check – even staring — at my thighs (even they are not the best thighs in the world. “Ginuk”, my bf once called them. They’re just regular thighs layered with fat– yet nutritious. Lawl). I went to a stall to buy mineral water and guess what? The owner talked to my thighs. Literally. He even took multiple checks on them, as if he wanted to make sure they were real. I took the bottle and managed to find a seat near that stall, trying to forget what just happened.

Apparently, you can’t wear short skirt AND smoking at the same time. Things were just getting worse.

When I was sitting there, there was this guy on a bike slowly approaching (at the same time, checking at my thighs) and carefully parked his bike next to me. I wasn’t sure what he wanted to do there because I kept looking at my phone. Minutes later he decided to buy mineral water from the same stall, then lighted his cigs while still sitting on his bike. I called my boyfriend if I could wait someplace else because I was starting to feel uncomfortable. Then I decided to wait in a food stall nearby, located 200m from the previous one. I was ordering hot tea when I realized that creepy guy already seated next to me, ordering the same thing. What. The. Heck. Realizing that this is a red flag — and since there were only few people in there– I tried to be cool while looking for a chance to find a different seat. Finally my boyfriend came and the drama ended.

Then it strikes me. Should I really give up on wearing skirt for the sake of my security? Don’t even make me start with rape myth (I can’t believe there is actually something that is dumb and gross at the same time) where people believe women are responsible for the victimization like “Of course she got raped, she dressed like a whore”. Don’t even dare to tell me to cover myself, it doesn’t solve anything.

Fuck free will, for there’s no such thing. And the options are more limited for those who were born with boobs and uterus. HOW SAD IS THAT?

Advertisements

Pemikiran: Feminisme dan Perempuan dalam Dunia Kerja

photo 5

Sebenarnya ini adalah tulisan yang saya buat untuk dimuat dalam sebuah artikel di majalah indie Zine: Slavemade, edisi Mayday. Artikel ini isinya cuma sekedar pemikiran dan pendapat pribadi terkait masalah feminisme dalam konteks keadaan perempuan dan kesempatan kerja. Tulisan ini kemungkinan akan saya perluas lagi, suatu hari nanti. Kalo ada salah-salah, mohon dimaafkan. Semoga bisa menjadi manfaat. Kalo enggak, silahkan diabaikan saja 🙂

        Dari hasil pengamatan saya selama ini dalam diskusi terbuka maupun online, tidak sedikit laki-laki yang gerah dengan istilah “Feminism” atau “Feminis”. Feminisme sendiri bagi sebagian kalangan sering dipersepsikan sebagai sebuah agenda dalam memperjuangkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Ada pula yang melihat feminism merupakan humanism karena beberapa prinsip serupa yang dimiliki keduanya. Kedua persepsi ini tidak sepenuhnya salah, namun akan menimbulkan stigma yang salah jika dilihat dari perspektif yang keliru.

Pemahaman: Feminisme dan Humanisme 

         Pertama-tama mari kita mematahkan stigma buruk feminisme dengan mendekonstruksikan pemahaman tentangnya. Feminisme bukan sebuah bentuk eksklusivitas wanita atas pria. Dalam dogma feminism, kita tidak berbicara mengenai pembedaan seks (jenis kelamin) melainkan gender. Seks adalah badani yang sifatnya kodrati. Namun gender adalah seperangkat karakteristik ciptaan manusia (produk kultural) untuk membedakan laki-laki dan perempuan dalam perannya secara sosial. Mengapa sering dikaitkan dengan seks? Perbedaan seks atau jenis kelamin ini adalah salah satu pemicu timbulnya diskriminasi gender. Feminisme adalah sebuah konsep, bukan pergerakkan atau aksi pemberontakkan. Feminisme masa kini fokus terhadap advokasi gender-gender yang didiskriminasi, yaitu perempuan dan juga LGBT.

         Kedua, mari kita rekonstruksi pemahaman dengan perspektif yang lebih gamblang. Konsep kesetaraan (egalitarian) dengan ideology feminis datang dari ‘ibu’ yang sama, yaitu Humanisme. Humanisme yang berkembang pada abad 18 sebenarnya sebuah ideology dimana manusia mengutamakan logika, etika, dan keadilan dengan mengabaikan dogma-dogma keagamaan dan keilahian. Praktik humanism yang dijunjung para egalitarian masa kini fokus pada komitmen terhadap hak-hak manusia dengan perspektif rasio yang universal dan sekuler. Namun, mereka tidak fokus terhadap gender. Feminism adalah konsep yang lebih meruncing dari ideology humanis, yaitu dengan fokus terhadap isu-isu ketidaksetaraan dalam gender. Pada intinya, humanis -atau egalis- dan feminis memegang beberapa prinsip yang sama. Jika keduanya sama, mengapa tidak pakai istilah humanism melainkan feminism untuk memperjuangkan kesetaraan? Karena tanpa menamakan isu ketidaksetaraan wanita, tanpa analisis dan aksi terhadap struktur kekuasaan yang sistemis; dimana sebagian besar sektornya dikuasai oleh laki-laki- dikhawatirkan permasalahan mengenai diskriminasi dan kejahatan terhadap perempuan tidak akan diprioritaskan. Bisa dikatakan bahwa feminism adalah humanisme, namun dengan kacamata yang lebih spesifik.

Agenda atau Konsep? 

         Penemuan pil kontrasepsi, gerakan feminism, penerimaan perempuan untuk mendapatkan edukasi yang lebih tinggi telah kita nikmati hasilnya hingga kini. Perlu dicatat bahwa gerakan feminism bukanlah sebuah konsentrasi pada hak-hak perempuan dengan mengabaikan hak-hak laki-laki. Gerakkan ini secara implisit mengutarakan ekspektasi kaum perempuan dalam penuntasan diskriminasi gender dengan tujuan berupa sebuah kebebasan agar seluruh manusia bisa mendapatkan hak dan kewajiban. Feminis dewasa ini bukan hanya membela gender perempuan saja, tetapi juga transgender maupun non-gender (LGBT).

         Untuk tujuan apakah? Sadly but true, bentukan sistem patriarkal yang terbentuk di masyarakat bukan menguntungkan kaum laki-laki secara general, tetapi demi kepentingan politis para pemegang kekuasaan. Patriarki yang tertanam pada sistem dan struktur kekuasaan membuat masyarakatnya lebih mementingkan kapital dan mentalitas dibanding penghormatan terhadap manusia, kebebasannya untuk mengekspresikan diri, juga menyadari potensinya secara penuh sebagai manusia. Dengan kata lain, ‘musuh bersama’ kita adalah para pemegang kekuasaan. Jika kita dapat memahami feminisme dengan baik, maka kita akan menyadari bahwa gerakkan yang dilakukan oleh para feminis ini bukan untuk keuntungan sebagian jenis manusia saja, namun untuk mewujudkan sebuah keuntungan yang konkrit bagi kita semua.

Konsep konvensional dan diskriminasi

          Banyak diskriminasi gender yang terjadi pada masyarakat urban. Saya ambil contoh yaitu keterbatasan kesempatan kerja terhadap perempuan dalam bidang professional. Saya bagi dalam pemicunya kedalam dua kelompok, yaitu internal dan eksternal. Pemicu internal biasanya terjadi pada perempuan yang menikah, yaitu akibat dari konsep konvensional yang ‘menuntut’ perempuan untuk menjadi yang bertanggungjawab penuh dalam tugas-tugas rumah tangga, sedangkan laki-laki yang bertanggungjawab dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi. Pembagian tugas ini semata-mata untuk efisiensi dalam pemenuhan kebutuhan materi demi sebuah kehidupan berkeluarga yang bahagia. Lantas, apakah dibenarkan jika komitmen membuat kita melupakan esensi kita sebagai manusia? Saya pribadi kurang setuju dengan pembagian tugas konvensional ini. Hidup bukan sekedar untuk bertahan dan memenuhi kepuasan materi. Bagaimana jika kita menghabiskan hidup kita untuk survive tanpa benar-benar tahu apa tujuan dari hidup ini?

           Menjadi ibu rumahtangga juga merupakan pekerjaan. Pertanyaannya, apakah pekerjaan ini secara konkrit menghasilkan sesuatu untuk banyak orang or just for the sake of surviving your own life? Meskipun si suami merupakan milyarder dengan harta tak terhingga, perlu diingat bahwa karir professional bukan semata persoalan income. Bunga Mega, founder dari PT. Perempuan Kuat Indonesia pernah mengatakan,”When you’re active, you’re just busy. But when you’re productive, you contribute.” Akibat dari konsep konvensional bentukkan ideology patriarki tersebut, banyak perempuan yang tidak menyadari pentingnya hal ini. Bahkan ketika mereka memiliki banyak skill dan potensi, setelah menikah mereka dengan segera menutup pintu-pintu kesempatan yang terbuka bagi mereka. Di sisi lain, para laki-laki juga ignorance terhadap hal ini. Bukan hanya dari sisi perempuan yang secara sadar membatasi dirinya, namun para perempuan yang terpaksa menikah muda, perempuan yang berstatus ekonomi rendah dan juga yang tidak memiliki kesempatan mengenyam pendidikan tinggi.

          Pemicu eksternal, juga datang dari stereotip-stereotip gender yang membuat kesempatan kerja di bidang professional bagi perempuan sangat terbatas. Contohnya, kuota dalam kursi perwakilan rakyat yang hanya 30% dan tidak bisa ditawar lagi. Meskipun sudah banyak perempuan yang menjadi pemimpin, namun banyak posisi pengambil keputusan didominasi oleh laki-laki. Selain diskriminasi, terdapat juga pelecehan terhadap perempuan dalam dunia kerja. Semua hal ini membatasi ruang gerak perempuan untuk bersinergi dengan  laki-laki dalam dunia professional. Salah  satu misi feminis dalam menciptakan suatu kondisi kehidupan yang egaliter dalam dunia professional adalah dengan melihat manusia (yaitu perempuan) dari kompetensinya, bukan lagi terkukung dalam kacamata stereotip-stereotip gendernya, juga membuka sekat yang membatasi perempuan akibat dari konsep konvensional dalam rumahtangga.

Referensi:

http://www.gender-focus.com/2012/08/07/feminism-f-a-q-s-why-feminism-not-equalism-or-humanism/http://www.shakesville.com/2006/04/feminism-is-humanism.htmlhttp://www.pambazuka.org/en/category/letters/44842

Slut and Bitch #1

phonto (20)

Lately, I discover that both ‘bitch’ and ‘slut’ have some negative values; to mock, to judge, to disrespect, and on. But bitch isn’t always a bitch, neither is slut. Shortly speaking, in the context of our present society, what are the differences between slut and bitch? How could one distinguish between both? Personally, when I don’t know how to define something, I’d make some binary oppositions, comparisons, criteria, and shits. These are some of my comparisons (a.k.a personal point of view, towards the differences) between slut and bitch to define each term.

Slut and Bitch

I might add the list later. But I think it’s enough for now.

I’m open to any addition, or comment. Or not.

Nah, I’m kidding.

Kebebasan Berpendapat dan Cyberbullying

phonto (2)

Hakikat kebebasan manusia dalam eksistensinya.

    Kalo kita ngomongin soal kebebasan secara general, kita mesti kembali lagi pada hakikat kita sebagai manusia. Being and becoming. Menurut pemikiran eksistensialisme Sartre, manusia sejatinya menemukan dirinya sendiri (eksistensi), lalu menjadikan dirinya sendiri sebagai sesuatu (esensi). Dalam pencarian esensi inilah manusia memiliki kebebasan absolut dan free will. Masing-masing individu bebas menjadi apapun yang diinginkannya. Kebebasan ini disebut juga dengan subyektivitas. Nah, subyektivitas ini bukan hanya menghasilkan tanggung jawab bagi masing-masing individunya, tetapi juga bagi seluruh manusia. Dengan kata lain, kita sebagai manusia masuk ke dalam sebuah tanggung jawab yang besar dan kompleks karena hidup kita tidak terlepas dari manusia di sekitar kita.
Dalam eksistensialisme ateistik, Sartre juga menjelaskan eksistensi manusia tanpa adanya Tuhan. Manusia dianggap sebagai sebuah entitas kebebasan. Oleh sebab itu Sartre mengatakan bahwa manusia dikutuk untuk menjadi bebas. Mengapa dikutuk? Karena manusia tidak menciptakan dirinya sendiri atau diciptakan pihak lain, tetapi manusia begitu bebas sehingga ia harus bertanggung-jawab untuk seluruh aksinya. Seumur hidupnya, tanpa sadar atau disadari manusia menghabiskan waktu untuk mendapatkan kebebasan. Masuk dalam usia kritis berpikir, manusia mulai menyadari adanya kebebasan berpendapat dan kebebasan bertindak sebagai sebuah hak yang harus diterima. Mulai dari Duham dan undang-undang HAM lainnya dirancang sedemikian rupa demi menyelamatkan manusia dari represi. Sayangnya, jarang ada yang benar-benar menghayati HAM itu sendiri. Coba renungkan sejenak, sudahkah masing-masing dari kita menghayati arti kebebasan dan siap bertanggungjawab atas kebebasan tersebut?

Cyberbullying

     Kebebasan berpendapat adalah kebebasan yang paling sering disalahgunakan. Contohnya dalam kehidupan sosial kita dalam dunia maya. Pernah denger soal virtual bullying atau cyberbullying? Ruang virtual makin hari makin akrab sama kehidupan manusia, bahkan mungkin sudah jadi kebutuhan primer (untuk remaja, dewasa muda, hingga orang tua) yang susah untuk dilepas. Maraknya jejaring sosial yang berkembang sekarang membuat masing-masing dari kita juga memiliki social circle sendiri dalam ruang virtual kita. Dan sama seperti dunia nyata, di dunia ini bullying juga seringkali terjadi. Umumnya yang menjadi korban adalah remaja usia sekolah menengah pertama hingga akhir. Menurut CBC News, sejak tahun 2003 korban cyberbullying di US, Kanada, dan Australia mencapai angka 41 kasus bunuh diri. Salah satunya pada tahun 2011, Nova Scotia, korban cyberbullying melalui formspring, juga Amanda Todd yang membuat sebuah pesan terakhir pada jejaring sosial youtube, sebelum akhirnya bunuh diri pada akhir tahun lalu.
Dari keseluruhan korban bullying yang melakukan bunuh diri, 78% diantaranya mengalami bully di sekolah dan online. Sisanya mengalami mood disorder, gejala depresi, dan lain-lain. Mereka berumur dari 13 tahun hingga 18 tahun dan pelakunya merupakan orang-orang dengan usia dewasa muda. Menurut John C. LeBlanc, seorang professor dari Dalhousie di Halifax yang terlibat dalam penelitian mengenai cyberbullying ini, “Teenagers are very vulnerable that way. Adults use social media, particularly young adults. So, it’s not exposure to social media, but about being a young adolescent that is trying to form his or her identity, and cares very much about what people think.”

     Fenomena cyberbullying ini bukan hanya menimpa remaja maupun dewasa muda biasa, namun juga mereka yang terkenal seperti atlit tenis berumur 22 tahun bernama Rebecca Marino, asal Kanada. Rebecca memutuskan untuk mengundurkan diri dari Australian Open tennis championship akibat serangan para bullies melalui social media online. Para ‘haters’ ini menyerang Rebecca melalui twitter dengan kata-kata yang sangat inappropriate sehingga membuat Rebecca depresi dan menutup akun-akun jejaring sosialnya. Di Indonesia sendiri juga beberapa remaja seringkali mendapatkan serangan-serangan dari para bullies, atau kasus yang lebih sering terlihat adalah penyerangan oleh para (so-called) die hard fans dari seorang selebritis. Contohnya, Aurel Hermansyah. Sekitar satu tahun atau dua tahun yang lalu, gue sempet mengikuti linimasa Aurel. Beberapa akun dengan jumlah followers yang cukup banyak sering meretweet beberapa tweet aurel yang dinilai “galau”. Yang mengerikan justru komentar dari para followers akun-akun tersebut. Atau ada yang pernah perhatikan ketika ada seleb yang sedang tweetwar? Setiap ada yang tweetwar, yang gue lakuin adalah membaca mention yang masuk ke akun-akun masing-masing partisipan. Ada fans, ada haters, ada juga yang gak tau apa-apa dan asal komentar aja tetapi komentarnya benar-benar kurang ajar. Ironis karena partisipan dunia maya dewasa ini sudah tentu dari kalangan well-educated 😦

     Dalam lingkup virtual yang kita hadapi ini, tanpa adanya tatap muka, respon dan komentar akan segala sesuatunya cenderung bersifat spontan. Tidak adanya batasan ruang dan waktu juga membuat para partisipan virtual ini menuliskan sesuatu tanpa dipikir resikonya terlebih dahulu. Padahal, kebebasan kita dalam berpendapat juga harus mempertimbangkan kenyamanan, serta resikonya terhadap privilege orang lain. Apakah arti kebebasan jika hak kita untuk bebas itu ternyata membatasi ruang gerak orang lainnya untuk bisa bebas berekspresi? Apa sih yang kita harapkan dari lingkungan di sekitar kita? Nyaman, harmonis, dan damai kan? Lingkungan virtual kita juga seharusnya memiliki atmosfir yang sama seperti lingkungan tempat tinggal kita. Memang gak mudah jadi manusia, ada yang suka dan pasti ada yang tidak suka, karena semua hal di dunia memiliki dualitas. Pendapat subyektif masing-masing juga merupakan hak yang gak bisa kita ganggu gugat. Tetapi kalau memang gak suka, gak perlu dibenci atau dihina. Kalau memang berbeda, kenapa harus dibeda-bedakan? Selama yang dia lakukan tidak mengganggu dan melanggar hukum, buat apa mengoreksi tindakan mereka? Karena kebalikkan dari suka bukannya benci, tetapi tidak peduli. Sama aja seperti dunia nyata, kita juga harus menciptakan lingkungan virtual yang sehat buat semuanya. Buat para partisipan dunia v yang well-educated, yuk sama-sama behave. Kenyamanan kan dari kita untuk kita 🙂

Referensi:
http://www.cbc.ca/news/technology/story/2012/10/19/cyberbullying-suicide-study.html
http://www.cbc.ca/news/canada/british-columbia/story/2012/10/11/bc-maple-ridge-suicide.html
http://www.cbc.ca/news/canada/nova-scotia/story/2011/03/28/ns-jenna-cyberbullying.html
http://www.thestar.com/sports/tennis/2013/02/20/rebecca_marino_quits_tennis_following_cyberbullying_incidents.html

Maturity

phonto

        So couple nights ago I decided not to stay in my boarding house, instead I took a train back to my grandmother’s house. Because my grandparents are still in Malaysia for some medical check-up. I met up with my brother (who works in central of Jakarta) in the station, so that we could get back home together. I didn’t get the same train with him because my class ended up so late, not like it used to be. In the way home, we both went to one of fast food outlet which is famous for the fried chicken. Basically, I was not in the wrong mood. Just some and other things keep bother me but I don’t really buy it. Apparently, I rarely buy an a la carte in this kind of outlet, so I don’t know that if we only could buy two pieces of chicken by minimum. What irritated me the most is, we could only get 1 breast and 1 thigh for each purchase. I just don’t get it. Even when I bought 3 pieces of chicken and still, we will have to take that stupid thigh. I asked the employee about how could that possibly happen, since not everyone like the thigh piece.

He said  “That’s the way it is, ma’am, for purchasing the a la carte”. I was not angry because of him or this ridiculous rule, I was mad because he didn’t give reason, neither helped us. I asked him “Why we should take the thigh? What if I don’t like it? You will still force me to take it, even I was the one who bought it by choice? I’m your customer, I need to know why.” Then, my brother did the talking, and I kept asking questions to that employee. My brother looked a little bit irritated with my attitude, but he covered it with laugh. After a little bit negotiation, my brother could get all three pieces, breasts, but we have to switch it with the package with rice and coke. When the employee went to the back, my brother said “You don’t have to do that, he’s really not worth your attitude”. I was a bit surprised because he wasn’t standing on my side. “Why? It’s his job to give us explanation. It’s his job. He get paid for serving the best service.” “If you have some complains, just talk directly to the manager. You know, that kind of guy is the one who get scolded in his days of works, even it’s not his fault. And you know how much money he get from this job?”

“It’s our goddamn right as the customer. If anyone ever should take the role as the annoying customer, maybe that person is me. I don’t mind at all, someone should be on that role, right?”. He nodded and said “But you don’t push him nearly the edge. It’s not his fault at all, you’re an educated young lady, you know how to deal it without hurting people’s feeling”.
“Today, I got scolded in the office, for something that wasn’t my fault at all. I was upset. I wish I could backfire at my boss. But my professionalism has been questioned. I had to face it. You might not understand this but soon, you’ll know it.” Then he gently stroke my shoulder to calmed me down.

I just realized I was that temperamental. I couldn’t imagine if I was in that employee’s position, taking something that isn’t because of my fault at all. I can’t imagine one day I would be in his position. Maybe I would. And I would be so upset. I was trying to be mature and I was wrong. Mature isn’t only about how you think, it’s about how you maintain your emotions. And for heaven’s sake it’s just so hard to do.

But from that night, I realized that my brother has been so grew up. I’m talking about time that flies.

Simplest things that make you happy

phonto (1)
1. Smile like it’s your first day of everything good that’s willing to be happen.
2. Start the day by writing everything that you want to do today in your note pad, then accomplish all of it.
3. Keep your promise. And don’t make promises unless you’re going to keep it.
4. Do not stalk! whether it’s your ex, your ex’s new gf/bf, or your ex’s ex new gf/bf, or whatever.
5. Do not care or listen to other’s opinions about yourself unless it’s useful.
6. Everytime you look at the mirror, don’t forget to smirk and say “Hi, gorgeous”
7. When you’re not feeling good about how you look, do something about it. (Trick: Wear your favorite’s
underwear, do some make up or wear your favorite’s shirt, do something different with your hair, wear your best shoes. Voila!)
8. Always say 3 magic words when it’s necessary, respect other people by respecting the folkways: Sorry, Please, Thank you.
9. Greet some strangers, give them your best smile.
10. Give some gifts to your friends with no reason at all.
11. Remember the fact that you’re just 1 out of 1 in the world.
12. Expect less. Targeting more.
13. Confidence is what makes you healthy, while over-confidence won’t make you fly.
14. Do not involve in a discussion group if the subject is just about someone else’s life.
15. Say whatever you want to say, ask questions like a 5 years old kid.

Kepikiran Karena Foto Vulgar

photo 3 (1)

Setelah melihat timeline si nona vulgar yang fenomenal dan seperti cuplikan film porno, gue jadi kepikiran dan gatel pengen komentar.

Menurut gue, mengelitiki laki-laki ga perlu pake fantasi yang literal banget loh. Ada juga lelaki yang lebih geli jika di-seduce dengan komunikasi. Why?

1. Men appreciate confidence,

2. Men prefer woman who is fully being herself,

3. Men are craving to know how to make you feels good.

Once you could ‘communicate’ those with your body language or verbally, till you both aware of each other’s comfiness, you’re their goddess.
I think girls who are smart enough, are definitely better lover. Because they know how to dive deep down to meet your soul, arousing your mind, while pleasing every inch of your burning nerves.

Men are dying to see your secretive dark world, your purest human nature before the moral adjustment, your very basic instinct; wilderness. It’s not only about physical. It’s about the meeting of two lonely soul, being one and complete. That’s where the heaven supposed to be.

Marah

photo 3

OKE HARI INI GUE MARAH.

Kenapa gue marah? Semua gara-gara twitnya info Jakarta soal sebuah artikel yang menurut gue ENGGA BANGET. Kira-kira begini balasan RT twit gue terhadap Info Jakarta.

Soalnya tititnya terintimidasi, jadi makin kecil. lol. fucku RT @infojakarta: 5 Alasan Pria Tidak Menyukai Wanita Gemuk http://ow.ly/gEWKE

Gila kan. Judulnya aja “5 Alasan Pria Tidak Menyukai Wanita Gemuk”
Kata artikel tadi, laki suka sama perempuan langsing karena:

1. Lebih hot –> Lu pacaran sama dandang bekas masak aja sono, biar hot.

2. Lebih seksi –> Nyet, bodi montok kalo diajak ngobrol gak asik gmn? Bodi semok tapi gak nonton ovj satu hari langsung sakau, masih mau dipacarin?

3. Mudah diangkat –> Lu kira galon diangkat-angkat. Noh lu gendong wewe gombel aja noh.

4. Tidak Kurus –>> Gendut salah, kurus juga salah. Emang kita sapi potong, pake diukur bener beratnya.

5. Fleksibel di tempat tidur –>> Oh sukanya di tempat tidur doang? Kasian ga kreatip, otak lu sumpek ye. Kawin sama karet gelang aje gih bang

Semoga yang nulis artikel buru-buru dikawinin sama godzilla bunting. Amin

Teori Baru Tentang Cinta

phonto (18)

Hasil dari pemikiran yang terlalu dipikirin, kali ini menghasilkan sesuatu yang unik.
Gue sampe pada kesimpulan bahwa cinta itu allegory, ilusi, simulasi. Cinta sekedar trik kapitalis buat jual produk. Yang lo pada jalanin itu bukan cinta; itu namanya bargaining alias tawar menawar.

Nah, dalam bargaining position, yang terpenting adalah lo cari partner yang visi misinya sama. Kalo bisa pake sistem syariah. Insya Allah sama-sama untung.

Visi misi sama, kontrak jelas, MOU jelas, jalanin sungguh-sungguh. Udah gak usah ribet sama perasaan yang dibuat-buat, menye-menye baboon lu pada.

 

Cynical? Oh stop it you…

Gender, cinta, dan seksualitas

photo 2

Tergelitik banget buat nulis ini karena pagi ini, terpancing oleh sebuah conversation antar laki-laki di twitter, tentang pegawai-pegawai perempuan di salah satu Bank yang menurut mereka tidak semenarik di Bank yang lainnya. Gue jadi tersulut emosi ketika melihat hal yang sangat superficial kaya begitu. Gue seketika ngamuk dan bilang “hey.. ke bank ngurusin duit kan, bukan ngurusin birahi. Hargai profesionalitas perempuan dari kompetensi, bukan fisiknya.”

Jujur, miris sama laki-laki yang cuma bisa liat keindahan kasat mata. Pantes gak bisa liat kompetensi perempuan sebagai pribadi otonom terlepas dari atribut keperempuanannya. Laki-laki cetek yg pikirannya gak terbuka, alias goblok bisa berpura-pura pintar, terus meyakinkan kita kalo mereka better dari kita.
Pffft~ You know your own worth, girls! Buka mata. Mereka cuma makhluk-makhluk phallocentrist. Otak mereka ada di kelaminnya. Otak yang di kepala sih dipake kadang-kadang aja kalo kepepet. Hahaha (Ok ini sangat offensive).In my opinion, perempuan yang beneran perempuan, gunain otak terus jadi sadar sama kebutuhannya. Kalo laki-laki? Ya kesadaran, ya pikiran, yang ngatur burungnya.

Kalo perempuan yang menghamba laki-laki “aku butuh kamu..aku gabisa tanpa kamu..” itu bukan perempuan. Betina sih, tapi bukan perempuan. ‘Butuh’ itu bentuk manipulasi laki-laki. Kita dibuat “seolah” butuh mereka. Karena kalo kita ga punys rasa butuh, mereka gak bisa dapetin kita. Nih, dari cerita bahwa kita tulang rusuk laki-laki aja udah keliatan bahwa mereka butuh kita. Dan sebagai tulang rusuk, kita bisa hidup dan mandiri. Tanpa balik ke kerangka juga ga masalah.
Mulailah dekonstruksi dari hal-hal simpel. Karena laki-laki itu manipulatif, mereka akan berusaha gak jadi seperti yg dipikirin ‘korbannya’. Omong kosong macam “aku beda sama lelaki lain” and shit, misalnya. Karakter laki-laki yang sebenernya bisa kebaca dari obrolan, diskusi, juga dari cara mereka memandang suatu masalah. Scientifically proven. Tips-tips asmara, akun-akun yang provokasi galau, cinta, menye, quotes-quotes melancholic, itu semua manipulasi. Anyway, galau itu komoditas, oleh produsen dijadiin bahan mentah produknya karena gratis. Terus-menerus dikonsumsi & direproduksi. Lingkaran setan.
Bahkan rata-rata artikel seks & kesehatan perempuan di surat kabar redaksinya laki-laki, which is tend to mislead, giving wrong portrayal of women. Bukan hanya laki-laki yang nyebarin manipulasi itu, bahkan perempuan yang udah ketipu pun juga nularin virus ke sesamanya. Hiii

Dalam pornografi, film maupun literatur erotis, perempuan seringkali jadi objeknya, dan penulisannya gaya laki-laki. Bisa diciriin banget penulisan gaya laki-laki. Gimana caranya? Biasanya gaya penulisan dari sudut pandang laki-laki, cuma memberi penggambaran sensasi sepihak. Maksudnya sepihak, si penulis cuma bisa gambarin apa yg pernah dia alamin berdasarkan pengalamannya, dituangkan lewat tokoh utama (pria)nya. Terus sensasi perempuan digambarinnya gimana? Paling mentok cuma sebatas ekspresi; melenguh, memejam, menggigit bibir, meracau. Pffft banget gak sih?

Padahal yang dirasain perempuan gak bisa diliat dari ekspresinya doang loh. Ekspresi bisa menipu, remember? Bagi perempuan, pengalaman seksual (tentunya yang gak dipaksa ya) adalah sesuatu yang menyenangkan. Semacam perjalanan, semacam morphin, semacam kesadaran penuh akan tubuh dan syaraf-syaraf erotiknya. Penggambaran sensasi seksual perempuan yang paling tepat tuh cuma ada di literatur erotis yang ditulis sama perempuan. Bahkan sensasi itu digambarkan dengan perumpamaan yang pas, konsep yang universal, juga dengan penggambaran puitik yang sangat indah. Kenikmatan bukan cuma diliat dari melenguh. Emang kita kebo cyiiiin~ Kalo penulis perempuan menulis literatur erotis itu lebih pada niat “shares the same feeling”, bukan mau narsis. Lebih pada membagi apa yg dia rasakan. Sedangkan kecenderungan penulis laki-laki dalam erotika menunjukkan superioritasnya atas perempuan lewat penggambaran bagaimana mereka ‘garap’ perempuan sampe perempuannya ‘ga berdaya’. Tokoh utamanya sendiri manifestasi dari pengalaman si penulisnya tentang seks kan. Sorry but true, menurut gue penulis stensil laki-laki itu narsis.

Kemarin gue seharian menghabiskan waktu observasi berbagai mitologi klasik dan menemukan fakta yang unik tentang perempuan. Rata-rata perempuan dalam mitologi (goddess & demi-goddess) yang seksi (menggoda birahi) dan kuat, dianggap sebagai kutukan, bencana, malapetaka. Lain kali bakal gue post tulisan gue tentang universalitas pemikiran manusia, memposisikan perempuan sebagai yang ‘tertuduh’ dan bersalah. Nah, menanggapi respon mengenai konsep mother earth, gue udah pernah bahas di twitter. Intinya bumi itu konsep perempuan ‘ideal’, karena kan bumi itu pasif. Jadi, konsep berpikir seperti itu menimbulkan anggapan bahwa perempuan yang sejati itu yang pasif, nerima, dan lain-lain. Kalo yang agresif dan ekspesif, dianggep sebagai sebuah ancaman dan sangat destruktif.

“Perempuan tabu ngomongin seks, gak boleh, nanti dikira binal.” Ini adalah pola pikir tai yang ditanemin ke masyarakat. Birahi itu kodrati, bro. Dan membahas seks bukan berarti membahas aktivitasnya. Wake up. Don’t put your mind in a cage, it’s not a pet. Your mind deserve a wildlife, it has to be free.